Doa hamba

Ya Allah pantaskah hambamu ini mendapatkan surgamu
Ya Allah pastaskah hambamu ini bertemu dengan Baginda Rasullulah dan para sahabatnya
Sungguh Ya Allah cinta di dalam dada ini begitu menggebu gebu untukmu dan para pengikutmu
Tapi hamba hanya makhluk yang kecil yang mudah sekali terjerumus oleh kegemerlapan dunia. hamba hanyalah makhluk yang tertipu oleh kenikmatan dosa. Sering sekali hamba lalai dengan perintahmu. Imanku sangatlah mudah rapuh. Kenikmatanmu terkadang hamba lupakan dan masih meminta lebih.
Ya Allah sungguh hatiku kotor terkadang hamba sering terpukau oleh makhluk ciptaanmu yang bahkan tak mengenalmu. sungguh hamba telah termakan oleh perhiasaan dunia yang fana. Ampunilah aku Ya Allah. Engkau adalah Rabbku jiwa dan ragaku adalah milikmu
Ya Allah teguhkanlah aku didalam agamamu. Jadikanlah cintaku kepadamu sedalam dalamnya cinta..
Kuatkanlah Imanku. Berilah keselamatan bagiku di dunia dan di akhirat. Aaamiiin

Cinta sepasang Insan mulia Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra

Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.



Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ‘Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.ross putihIa merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ‘Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ‘Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; ‘Utsman, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ‘Ali.
Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ‘Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ‘Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
‘Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. “Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ‘Ali.
“Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.
‘Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ‘Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ‘Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ‘Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ‘Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, “Aku datang bersama Abu Bakar dan ‘Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ‘Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ‘Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ‘Umar melakukannya. ‘Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.
‘Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. “Wahai Quraisy”, katanya. “Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ‘Umar di balik bukit ini!” ‘Umar adalah lelaki pemberani. ‘Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ‘Umar jauh lebih layak. Dan ‘Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti
Ia mengambil kesempatan
Itulah keberanian
Atau mempersilakan
Yang ini pengorbanan

Maka ‘Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ‘Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ‘Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ‘Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
“Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. “Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. “
“Aku?”, tanyanya tak yakin.
“Ya. Engkau wahai saudaraku!”
“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
“Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
‘Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
“Engkau pemuda sejati wahai ‘Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, “Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
“Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
“Entahlah..”
“Apa maksudmu?”
“Menurut kalian apakah ‘Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
“Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
“Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”
Dan ‘Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ‘Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
‘Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ‘Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu” ini merupakan sisi ROMANTIS dari hubungan mereka berdua.
Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”
Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)

Pilihan

Di antara dua pilihan
Jalan mana yang akan ku ambil. aku tak tau harus tetap melanjutkannya atau tidak. di dalam hatiku ada dua ruang yang berbeda. disalah satu ruang aku merasa puas dengan apa yang telah aku lakukan. aku bertemu orang orang yang luar biasa yang mewarnai hari hariku. mereka semua telah mengubah hidupku.
sementara di satu sisi lagi aku merasa kosong. aku tak bisa bersama meraka aku tak bisa menjadi seperti mereka. aku merasa tertekan ketika aku tak mampu menahan ketakutanku. aku letih ketika aku terus menggenggam jemariku dengan keras.
Apa yang harus aku lakukan ya Allah. sesungguhnya engkau maha mengetahui semua yang ada di hatiku. tunjukanlah aku jalan terbaik yang engkau pilihkan untukku

Cinta itu seperti ini, Cinta itu seperti sekarang ini



2014. dan usiaku kini 18 tahun, usia yang mendekati kedewasaan bukan lagi sebagai remaja yang penuh dengan kegembiraan dan berjuta kemauan namun kini aku tengah belajar untuk menahan semua itu.
dulu meskipun pengetahuan telah masuk didiriku, aku selalu mengabaikannya seolah tak takut akan dosa dan murka Allah. saat ini aku tengah menjalani perintah bukan sebagai pilihan hidup namun ini adalah kewajiban untuk "TIDAK BERPACARAN" 
aku tak pernah ingin dikatakan suci ataupun bersih. semua kulakukan karena aku merasa kotor dan penuh dengan dosa. atau pula bukan karena aku tak menyukai siapapun. jika itu alasannya maka yang kukatakan adalah bohong. aku memiliki seseorang yang sangat kusukai. dulu aku selalu berharap dia juga menyukaiku namun kini aku mengabaikan semua perasaanku, menyimpannya dihati saja. karena rasa suka datangnya dari Allah dan hanya dia yang berhak menentukan akan dibawa kemana rasa itu. 
aku juga tengah memantaskan diri agar mendapat seseorang berhak untukku dapatkan kelak, karena :
                                                                                                            
“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)


Cinta itu seperti ini, Cinta itu seperti sekarang ini. aku sangat mencintai kedua orang tuaku. sudah cukup mereka menanggung dosa yang kulalukan baik yang kusadari maupun tidak. aku tak ingin menambahnya lagi dengan menbiarkan rasa suka sesaat kepada orang yang belum tentu baik untukku. dalam sebuah artikel, aku mendapati kalimat yang sungguh menakutiku. "Jika seorang anak melakukan maksiat maka anak itu adalah duri bagi kedua orang tuanya" aku belum bisa membahagiakan kedua orang tuaku, namun malah dosa yang kuberikan. untuk itu aku semakin takut melanggar perintah Allah. 



Aku bersyukur sekarang karena Allah tengah menuntunku menuju surganya. dan aku sungguh berharap semua yang kulakukan saat ini akan terus berlangsung hingga saatnya tiba nanti 

like they say, "People Come & People Go"

"Mereka datang dan mereka pergi, namun satu yang terbaik akan tetap tinggal"


Kebanyakan dari mereka menyederhanakan kesetian adalah siapa yang akan tetap tinggal dan hanya tetap tinggal. namun hanya tetap tinggal saja tidak cukup. semua orang punya cara mereka sendiri untuk menunjukkan kesetian. seberapa besar pengorbanan adalah yang paling utama dan selalu ada ketulusan tanpa pengharapan kembali.

Karena beginilah hidup selalu ada yang datang dan pergi. dan pada akhirnya hanya waktulah yang dapat menyembuhkan keadaan, bukan dari kesungguhan memaafkan namun hanya dari perasaan yang mengatakan "karena semua telah berlalu"


-Anggie rizka safitri


Allah

Terkadang aku tidak memahami bahasa-Mu menyayangiku
Terkadang aku bertanya kenapa bisa begini dan begitu
Tak jarang pula arahku tak menentu
Mencari-cari jawaban atas doa yang aku sebut
Kucoba pejamkan mata
Mencoba merasakan dan meraba
Mendekat dan berdialog dengan diriku
Aku menangis dan tersenyum, oh..ternyata begitu
Semakin dekat dengan-Mu
Semakin terasa cahaya kasih-Mu
Tiada yang tertinggal
Yang diminta bahkan yang tidak sempat terminta
Pengetahuan-Mu melebihi apa yang tidak terlintas
Kelembutan-Mu melebihi apa yang belum pernah terasakan
Engkau senantiasa terjaga, menjagaku dalam penjagaan-Mu

Apalagi yang kurang dari-Mu ?
Maafkan hamba-Mu yang kurang bersyukur
Kau penuhi hakku meski belum kusempurnakan kewajibanku
Tetapi Kau tiada mengeluh ketika tak kunjung Kau terima hak-Mu atasku
Kesadaranku tiada mengingkari atas kemaha sempurnaan-Mu
Dan tak jarang ketidaksadaranku selalu menuntut-Mu akan ini dan itu
Tapi Engkau justru membelaiku dengan penuh sayang
Bahkan Kau sediakan ampunan sebelum ku memohonkannya
Aku tersenyum dan menangis dalam heningku
Manusia macam apa aku?
Tidak tau malu
Namun Engkau tetap memelukku, meski mungkin Engkau malu atasku

http://rlyna.blogdetik.com/

Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) : Pengertian, Tujuan, Indikator dan Temuan atas Kelemahan SPIP

Sistem Pengendalian Internal  Pemerintah       Sistem Pengendalian Internal diperlukan oleh semua entitas dalam pelaksanaan kegiatan operais...